Mirna Muska’s

April 21, 2006

Imunisasi Simultan 2

Filed under: Hubby & Children

Salah satu ‘cita-cita’ aku semenjak join milis Sehat adalah melakukan imunisasi simultan untuk anak-anak. Cuma, semenjak tau ttg imunisasi simultan ini, aku nggak langsung mempraktekkannya. Salah satu sebabnya sih karena aku masih ragu-ragu melakukannya, selain juga DSA Vilo-Algi yang aku percaya, yg punya pandangan RUD (rational use of drugs), nggak mendukung imunisasi simultan ini. Selain itu, baca-baca pengalaman para orang tua di milis yang minta imunisasi simultan, banyak banget yang ditolak oleh DSA nya dengan berbagai alasan, misalnya:

  • kalau sebelumnya dikasih imunisasi tunggal, maka selanjutnya tidak boleh simultan
  • imunisasi simultan tidak lazim dilakukan
  • imunisasi itu nggak bisa macem-macem, kasihan anaknya, kan memori tubuh anak terbatas nggak bisa si anak bikin antibodi sebanyak itu dalam waktu yg sama
  • saya bukan aliran imunisasi rombongan, Ibu ke dr Wati aja kalau mau simultan
  • nanti malah tambah sakit anaknya kalo simultan
  • kasihan anaknya di suntik 2x padahal 1x aja udah sakit, selain itu imunisasi simultan bukan program RS ybs.
Belum lagi kalau DSA nya ternyata malah marah atau ngotot padahal udah dikasih argumen & artikel terkait imunisasi simultan ini :( . Aku jadi makin mikir-mikir mau melakukan itu, padahal aku tau manfaatnya untuk anak-anak dan aku sendiri, serta bahwa segala alasan di atas tidak benar sama sekali (misalnya, kalau memang nggak boleh simultan, kenapa dong biasanya Polio digabung sama DPT, atau beberapa vaksin dibuat vaksin kombinasinya spt DPT-HIB atau DPaT-HIB). 

Jadi deh, setelah beberapa kali tertunda, akhirnya baru Sabtu kemarin aku ke dokter untuk imunisasi simultan Tiphus dan Hepatitis A untuk Algi. Aku nggak ke DSA yg biasa, aku cari dokter siapa aja yang prakteknya pas waktu aku kontrol hamil 2-mingguan. Sebelum menetapkan hati untuk melakukan ini, aku bikin persiapan dulu seperti baca berkali-kali artikel ttg imunisasi simultan, mengingat-ingat bagian mana yang paling penting dari artikel itu yang biasanya dijadikan alasan oleh DSA untuk tidak melakukan imunisasi simultan, ngeprint artikel-artikel pendukung, latihan ngomong ke dokternya, dan meyakinkan Ijal untuk mendukung aku di program ini. Yg terakhir ini yang paling penting, karena kalau dia nggak setuju aku juga nggak berani melakukan itu.

Pas hari H nya, aku dapet dokter yang dikenal bertangan dingin dan banyak pasiennya. Aku rada deg-deg an juga karena aku pernah liat dokter ini ngasih resep obat ke anaknya temenku yg masih 6 bulan segala macem antibiotik, dll, hanya karena si anak batuk-pilek biasa (padahal anaknya sendiri masih segar bugar, nggak lemes, cuma memang agak rewel aja karena pileknya itu). Biasanya sih, dokter yang gampang kasih antibiotik adalah juga dokter yang anti imunisasi simultan (jadi suudzhon deh gue…astagfirullahaladzim…). Tapi udah, deh, udah telanjur sampai dokter ini, aku jalan terus aja. Sampai di depan dokternya, aku langsung bilang maksudku.

Aku: “Sore, Dok, ini saya mau imunisasi simultan Typhus dan Hepatitis A”

Dokter: “Nggak usah terburu-buru, deh, Bu, yang santai-santai aja, satu kali imunisasi aja nggak usah simultan”

Aku: “Memangnya kenapa, Dok ?”

Dokter: “Nggak lazim itu, dan sebenarnya imunisasi memang nggak usah buru-buru, santai saja”

Aku: “Sebetulnya sih tujuan saya supaya anak saya nggak trauma, Dok, soalnya di dokternya yg biasa, pas masuk ruang prakteknya aja dia udah nangis”

Dokter: “Nggak, lah, nggak bakal trauma”

Aku: “Sebetulnya, kerugiannya apa ya, Dok, dengan imunisasi simultan itu ?”

Dokter: “Ya, karena memang nggak lazim dilakukan, Bu”

(sampe sini aku udah rada mengkeret, nggak tau musti bilang apa, untungnya ngeliat aku kayaknya masih nggak bisa nerima, Ijal ikutan angkat bicara)

Ijal: “Jadi, Dok, selain tidak lazim apa ya, Dok ?”

Dokter: “Ya, kita tidak usah terburu-buru deh, Pak, melakukan imunisasi, santai-santai saja”

(aku keluarin daftar imunisasi yang disarankan IDAI yg aku bawa, dimana disitu tertulis bahwa Typhus & Hep A bisa dilakukan simultan)

Aku: “Di daftar ini, Dok, daftar dari IDAI, tertulis bahwa keduanya bisa dilakukan simultan”

Ijal (sambil ngeliat & ngerefer ke daftar IDAI itu bilang): “Nggak apa-apa, deh, Dok, kita tetap mau melakukan simultan aja”.

Dokter: “Baik kalau begitu, suster tolong siapkan vaksinnya, Havrix & Thyperix”

Huahhh…… legaaaa banget aku dengernya… Alhamdulillah….. Langsung deh Algi diperiksa dulu trus disuntik di paha kanan sekali dan di paha kiri sekali. Ajaib, dia nangis cuma sebentar, cuma pas jarum suntiknya masuk aja. Padahal 2 kali suntik, lho….. Bener-bener ajaib… Memang sih, karena dia trauma banget disuntik, sebelum imunisasi yang ini aku udah sering cerita-cerita dan role-playing suntik-suntikan sama Algi. Aku bilang disuntik itu memang sakit, tapi cuma sebentar kok, abis itu nggak sakit lagi. Trus aku pura-pura nyuntik aku sendiri, teriak kesakitan, trus abis itu ketawa sambil bilang eh udah nggak sakit lagi tuh. Lumayan, deh, si Algi seneng tuh ngulang-ngulang adegan itu (abis teriak kesakitan trus bilang eh udah nggak sakit lagi). Pengalaman aku si Vilo aku gituin jadi nggak trauma lagi disuntik. 

Pulang dari rumah sakit rasanya legaaa banget, kayaknya ada beban berat yang akhirnya terangkat gitu. Duh, kalau bukan Ijal yang mendukung aku bilang ke dokternya, pasti aku udah menyerah, deh, soalnya suasana tanya jawabnya udah bikin aku rada nggak enak, krn keliatannya aku terus maksa & dokternya terus-terusan bilang nggak lazim & nggak usah buru-buru tanpa mau ngejelasin lebih lanjut.

Di perjalanan pulang kita terus-terusan ngomongin gimana hebatnya Algi waktu imunisasi itu. Si Algi beberapa kali angkat celana pendeknya untuk nunjukkin kedua plester di pahanya, bahkan dia pamer juga ke mb Minah waktu udah sampe rumah… ;-) . Si Vilo seperti biasa bilang, “Vilo juga hebat, Ma, kalau disuntik nggak nangis”. Aku bilang, “iya Vilo hebat juga, alhamdulillah, nangis sedikit juga nggak apa-apa”. Vilo: “Tapi kalau Vilo nggak nangis sama sekali, Ma…”… Hehehe…. iya deh…. ;-)

Imunisasi Simultan 1

Filed under: Personal

Salah satu milis yg aku ikuti adalah Milis Sehat. Milis ini adalah (aku quote dari deskripsi milisnya) sarana diskusi dan sharing pengalaman orang tua seputar seluk-beluk kesehatan anak sehingga diharapkan para orangtua memiliki pengetahuan kesehatan anak yg baik, serta membentuk pola pikir yang kritis dan rasional sehingga para orang tua mampu membina kemitraan yang baik dan sejajar dengan para tenaga medis. Pertama kali dibentuk tahun 2003, milis ini hanya diasuh oleh satu dokter, yaitu dr Purnamawati S. Pujiarto, Dr, SpAK, MMPaed. Kalau sekarang, sih, udah banyak dokter yang bergabung di milis, dari dokter umum, dokter gigi, sampai psikiater. Sejak Agustus 2005, diskusi-diskusi di milis (yg sehari bisa ratusan email) mulai dirangkum di website milis sehat beserta artikel-artikel pendukung lainnya. Aku sendiri cocok dengan point of view soal kesehatan di milis ini, rasional dan bisa diterima nalar aku. Alhamdulillah, semenjak ikut milis Sehat, aku nggak gampang panik lagi kalau anak-anak panas/sakit. Aku jadi lebih tau apa yang harus dilakukan pertama kali kalau anak sakit dan nggak langsung ke dokter kecuali dalam keadaan tertentu.

Bulan Februari 2006 yang lalu sempat ada liputan khusus tentang milis ini di Kompas Minggu dibawah judul Berjuang Menjadi Orangtua Cerdas dan Agar Bayi Tumbuh Sehat. Worth reading, lho…

Salah satu ilmu yang aku dapet dari milis sehat adalah soal Imunisasi Simultan. Imunisasi Simultan maksudnya imunisasi yang dilakukan dengan memberikan lebih dari satu vaksin secara bersamaan. Imunisasi Simultan dapat dilakukan dengan menggunakan vaksin kombinasi (misalnya DPT dg HIB yang menggunakan vaksin TetraHib) atau bila vaksin kombinasinya belum tersedia, menggunakan beberapa vaksin secara bersamaan. Manfaat Imunisasi Simultan antara lain (aku quote dari buku karangan dr Wati yang berjudul Bayiku, Anakku):

1.    Memberikan perlindungan dini pada anak pada kurun usia yang rentan infeksi, yaitu usia 12 bulan pertama (pada usia itu anak sudah memperoleh semua imunisasi dasar mulai dari polio, hep B, BCG, DPT, HiB)

2.    Mengurangi angka kunjungan ke dokter/rumah sakit. Ini berarti menghemat waktu, tenaga, dan uang, serta mengurangi trauma pada si anak dan mengurangi kemungkinan anak terpapar oleh anak lain yang sakit (kalau kata dr Wati: ‘padahal anakmu kan sehat cuma mau imunisasi, bisa-bisa pulang imunisasi anakmu dapat bonus demam, atau pilek, dst dst’)

Ada beberapa kekhawatiran sehubungan dengan pemberian imunisasi simultan ini. Salah satu diantaranya adalah “memberikan beberapa suntikan vaksinasi untuk penyakit yang berbeda secara bersamaan pada anak dapat meningkatkan resiko timbulnya efek samping dan membuat sistem kekebalan tubuh anak kelebihan beban”. Penjelasan terhadap kekhawatiran ini dijelaskan di web Sehat dalam bahasa Indonesia, yang merupakan translasi dari artikel bahasa Inggris yang ada di web CDC.

Selain itu, ada aturan/prinsip yang mengatur mengenai pemberian imunisasi simultan, jadi kita nggak asal kasih misalnya vaksin A dengan vaksin B, trus minggu depannya kita kasih vaksin C dengan vaksin A-kedua, dst. Guideline utamanya sih:

  • Vaksin yang dilemahkan +  Vaksin yang dilemahkan = bisa simultan kapan saja
  • Vaksin yang dilemahkan +  Vaksin Hidup = bisa simultan kapan saja
  • Vaksin Hidup + Vaksin Hidup = bisa diberikan simultan, tetapi apabila tidak simultan, harus ada  jarak/rentang pemberian 4 minggu antara satu vaksin hidup dengan vaksin hidup lainnya.

Yang termasuk Vaksin yang dilemahkan (toksoid) adalah: Hepatitis A, Hepatitis B, DPT, HIB, Typus. Sedangkan yang termasuk Vaksin Hidup adalah: Polio, BCG, MMR, Campak, Cacar Air/Varicella

Aturan/prinsip detailnya bisa dilihat di web sehat atau di worldwidevaccines.com.

Btw. seluk beluk imunisasi ini dibahas lumayan detail di buku dr Wati, selain juga termasuk topik bahasan yang seriiingg banget dibahas di milis. Jadi kalau mau tau banyak, beli deh bukunya dr Wati (eits, jangan salah, aku bukan tim marketingnya, lho, aku cuma ngerasa banyak yang aku dapet dari buku ini) atau ikutan milisnya.

April 12, 2006

Patung Selamat Datang

Filed under: Hubby & Children

Beberapa bulan yang lalu aku, anak-anak, ibuku, adikku, & keponakan2xku nyobain naik Busway, dari halte depan Masjid Al Azhar sampai stasiun Kota. Iseng banget ya, kita memang pingin ngasih tau ke anak-anak bahwa ini lho yang namanya Busway (padahal emaknya juga belom pernah naik….hihihi…). Sampai di stasiun Kota, kita sempat ke musium Fatahillah, sekitar 200 m dari situ. Suasananya kan temaram gitu, jadi keliatannya anak-anak malah lebih enjoy ngeliat meriam yang ada di depan musium.. ;-) .

Selama perjalanan, sempat 2 kali ngelewati Patung Selamat Datang yang ada di bunderan HI. Tapi minat Algi ke patung itu mulai mendalam waktu ketiga kalinya kita ngelewatin bunderan HI setelah nganter Ijal ngambil visa. Setelah itu, dia nanya-nanya tentang patung itu terus. Setiap kita pergi dia pasti nanya “Mama, patung selamat datangnya mana ?”, padahal perginya cuma ke Cibubur Junction deket rumah ;-) . Di rumah juga nggak ada angin nggak ada ujan sering nanya-nanya atau ngomong soal patung itu. Setiap ada kata/gambar patung, pasti dia langsung nge-refer ke Patung Selamat Datang.

Sampai suatu saat dia bilang: “Mama, Algi mau jadi Patung Selamat Datang, gimana caranya ?”. Aku ajarin supaya satu tangannya ke atas, dan inilah hasilnya setelah beberapa kali nyoba gaya yang paling pas:

PatungSelamatDatang

P.S. Pas aku nulis cerita ini, si Algi dari luar rumah langsung nyamperin aku di depan komputer trus bilang, “Mama liat, patung selamat datang Algi…” sambil tampangnya seneng banget ….

April 11, 2006

Jarhead

Filed under: Hubby & Children

Ternyata, salah satu masalah di cowok-cowok itu adalah potong rambut…

Ijal harus potong rambut maksimal 3 minggu sekali dan harus di tukang cukur deket rumah ibuku. Dia bilang tukang cukur lain nggak ada yg bisa motong sebagus tukang cukur itu emoticon. Vilo sama Algi lumayan, 2-3 bulan sekali, deh, walaupun pas potong memang potongan rambutnya udah nggak karuan. Masa-masa nangis pas potong rambut udah lewat buat Vilo. Dia malah enjoy dipotong karena dia jadi bisa main playstation. Algi nih, yg baru turun dari mobil aja udah jejeritan. Mana dia kan anaknya gampang muntah, jadi kalau mau potong rambut tuh bener-bener diatur waktunya menjelang waktu dia makan siang atau sore, jadi perutnya masih kosong dan kalaupun muntah abis potong rambut dia akan makan.

Udah beberapa lama Ijal minta aku belajar potong rambut, supaya dia dan anak-anak nggak repot kalau harus potong rambut. Aku rada reluctant karena tau sendiri kan rambut cowok, panjangnya cuma 2-3 cm, kalau salah potong atau agak mislek dikit ya mau nggak mau harus diabisin tu rambut. Too risky… Kemarin ini ibuku kasih satu set alat potong rambut cowok (hair clipper) dan karena aku masih juga nggak mau nyoba pake alat itu, Ijal jadi berusaha untuk nyoba pakai alat itu sendiri. Pertama dia cobain ke rambutnya sendiri dan lumayan sukses, walaupun cuma untuk bagian kiri dan kanan kepala aja karena bagian belakang kepalanya susah dijangkau. Kedua dia cobain ke Vilo. Sebelum mulai aja udah berantem karena Vilo bilang sakit-sakit (coba deh, rambut dipotong kok sakit…). Setelah 1/2 jam lebih, Ijal menyerah juga, karena banyakan berantemnya dari pada potong rambutnya. Udah gitu, karena Vilo ngeles-ngeles terus, potongan rambutnya jadi rada nggak karuan, kiri-kanannya nggak sama. Aku pikir, dicoba ke Vilo aja heboh kayak gitu, gimana mau potong rambut Algi… emoticon.

Jadi deh, pas weekend kita langsung ke tempat potong rambut khusus anak-anak di Kota Wisata yang menurut Ijal potongannya jauh lebih bagus daripada yg di PIM (asli gue gak tau bedanya dimana…hehehe…). Seperti biasa, Algi nangis, tapi cuma sempet muntah dikit banget karena motongnya juga gak lama (kita order minta model potong rambut yg paling cepet). Vilo dipotong model US Marine yg taunya lamaa deh waktu potongnya. Akhirnya selesai juga ritual 3 bulanan kami, dan liat deh hasilnya, para ‘Jarheads’ ku tersayang…;-)

My Jarheads

Jarhead = US Marine (slang).
Mengapa US Marine disebut Jarhead ? Salah satu pendapat mengatakan bahwa kata itu me-refer ke potongan rambut US Marine yang high and tight, yaitu potongan rambut yang sangat pendek di bagian atas telinga sedangkan potongan rambut di atas kepala dibikin agak tinggi, sehingga menyerupai tutup toples (jarhead).






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham