Mirna Muska’s

April 21, 2006

Imunisasi Simultan 1

Filed under: Personal

Salah satu milis yg aku ikuti adalah Milis Sehat. Milis ini adalah (aku quote dari deskripsi milisnya) sarana diskusi dan sharing pengalaman orang tua seputar seluk-beluk kesehatan anak sehingga diharapkan para orangtua memiliki pengetahuan kesehatan anak yg baik, serta membentuk pola pikir yang kritis dan rasional sehingga para orang tua mampu membina kemitraan yang baik dan sejajar dengan para tenaga medis. Pertama kali dibentuk tahun 2003, milis ini hanya diasuh oleh satu dokter, yaitu dr Purnamawati S. Pujiarto, Dr, SpAK, MMPaed. Kalau sekarang, sih, udah banyak dokter yang bergabung di milis, dari dokter umum, dokter gigi, sampai psikiater. Sejak Agustus 2005, diskusi-diskusi di milis (yg sehari bisa ratusan email) mulai dirangkum di website milis sehat beserta artikel-artikel pendukung lainnya. Aku sendiri cocok dengan point of view soal kesehatan di milis ini, rasional dan bisa diterima nalar aku. Alhamdulillah, semenjak ikut milis Sehat, aku nggak gampang panik lagi kalau anak-anak panas/sakit. Aku jadi lebih tau apa yang harus dilakukan pertama kali kalau anak sakit dan nggak langsung ke dokter kecuali dalam keadaan tertentu.

Bulan Februari 2006 yang lalu sempat ada liputan khusus tentang milis ini di Kompas Minggu dibawah judul Berjuang Menjadi Orangtua Cerdas dan Agar Bayi Tumbuh Sehat. Worth reading, lho…

Salah satu ilmu yang aku dapet dari milis sehat adalah soal Imunisasi Simultan. Imunisasi Simultan maksudnya imunisasi yang dilakukan dengan memberikan lebih dari satu vaksin secara bersamaan. Imunisasi Simultan dapat dilakukan dengan menggunakan vaksin kombinasi (misalnya DPT dg HIB yang menggunakan vaksin TetraHib) atau bila vaksin kombinasinya belum tersedia, menggunakan beberapa vaksin secara bersamaan. Manfaat Imunisasi Simultan antara lain (aku quote dari buku karangan dr Wati yang berjudul Bayiku, Anakku):

1.    Memberikan perlindungan dini pada anak pada kurun usia yang rentan infeksi, yaitu usia 12 bulan pertama (pada usia itu anak sudah memperoleh semua imunisasi dasar mulai dari polio, hep B, BCG, DPT, HiB)

2.    Mengurangi angka kunjungan ke dokter/rumah sakit. Ini berarti menghemat waktu, tenaga, dan uang, serta mengurangi trauma pada si anak dan mengurangi kemungkinan anak terpapar oleh anak lain yang sakit (kalau kata dr Wati: ‘padahal anakmu kan sehat cuma mau imunisasi, bisa-bisa pulang imunisasi anakmu dapat bonus demam, atau pilek, dst dst’)

Ada beberapa kekhawatiran sehubungan dengan pemberian imunisasi simultan ini. Salah satu diantaranya adalah “memberikan beberapa suntikan vaksinasi untuk penyakit yang berbeda secara bersamaan pada anak dapat meningkatkan resiko timbulnya efek samping dan membuat sistem kekebalan tubuh anak kelebihan beban”. Penjelasan terhadap kekhawatiran ini dijelaskan di web Sehat dalam bahasa Indonesia, yang merupakan translasi dari artikel bahasa Inggris yang ada di web CDC.

Selain itu, ada aturan/prinsip yang mengatur mengenai pemberian imunisasi simultan, jadi kita nggak asal kasih misalnya vaksin A dengan vaksin B, trus minggu depannya kita kasih vaksin C dengan vaksin A-kedua, dst. Guideline utamanya sih:

  • Vaksin yang dilemahkan +  Vaksin yang dilemahkan = bisa simultan kapan saja
  • Vaksin yang dilemahkan +  Vaksin Hidup = bisa simultan kapan saja
  • Vaksin Hidup + Vaksin Hidup = bisa diberikan simultan, tetapi apabila tidak simultan, harus ada  jarak/rentang pemberian 4 minggu antara satu vaksin hidup dengan vaksin hidup lainnya.

Yang termasuk Vaksin yang dilemahkan (toksoid) adalah: Hepatitis A, Hepatitis B, DPT, HIB, Typus. Sedangkan yang termasuk Vaksin Hidup adalah: Polio, BCG, MMR, Campak, Cacar Air/Varicella

Aturan/prinsip detailnya bisa dilihat di web sehat atau di worldwidevaccines.com.

Btw. seluk beluk imunisasi ini dibahas lumayan detail di buku dr Wati, selain juga termasuk topik bahasan yang seriiingg banget dibahas di milis. Jadi kalau mau tau banyak, beli deh bukunya dr Wati (eits, jangan salah, aku bukan tim marketingnya, lho, aku cuma ngerasa banyak yang aku dapet dari buku ini) atau ikutan milisnya.

1 Comment »

The URI to TrackBack this entry is: http://mirnamuska.blogsome.com/2006/04/21/imunisasi-simultan-1/trackback/

  1. Aku baca tulisan mbak kayanya ada semacam rasa percaya diri yang cukup besar menyoal kesehatan anak. Seru memang dimana kita bisa berargument dengan dokter dengan menghadirkan berbagai artikel dan sumber2 terpercaya di milis atau internet atau smart parent lainnya. Hanya saja hal tersebut jangan sampai mebuat kita keblabasan, dimana dokter ataupun tenaga medis justru hanya ditempatkan sebagai pelaksana saja. Misalnya hanya karena bisa nyuntik dan memiliki otorisasi menuliskan resep. Sedangkan obat dan diagnosanya kita yang menentukan. Aku setuju banget kok dengan dr. Wati, bahwa kita harus menjadi konsumen kesehatan yang smart. Hanya saja jangan sampai kita menjadi overconfident aja. Gimanapun mereka (dokter-red) belajar dan mengamati selama bertahun-tahun tentang ilmu kesehatan dan kedokteran, sedangkan kita hanya 6 bulan diskusi lewat milis. Jangan sampai kita terjebak! Aku punya 3 pengalaman tentang hal ini:
    1. Waktu anak saya masuk inkubator karena dokter mendiagnosa anak saya yang baru lahir gula darahnya rendah, jadi di infus glukosa. Saya menuding dokter dan pihak rumah sakit komersial saja. Mengingat ongkos inkubator per malam Rp 400rb, apalagi komentar dari dokter kandungan saya kurang mendukung hal itu dimana beliau bilang gini, “itu menurut dr anaknya. Menurut saya sih ngga perlulah sampai inkubator segala. Saya dulu kecil di bedong saja bisa jadi dokter spesialis kok” secara tersirat dia ingin mengatakan treatment ke anak saya berlebihan. Apalagi memang bayi saya lahirya 3,8 kg dan kelihatan gagah sekali dibanding bayi2 yang lain. Saya menyimpan kegeraman tersebut cukup lama terutama kepada DSA nya, terlebih saat itu beliau sangat suka ditemui untuk minta penjelasan. Seperti orang yang melarikan diri saja. Sampai beberapa minggu yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman yang juga berprofesi dokter, dan dia menjelaskan secara ilmiah namun kominikatif bahwa dalam kondisi saya yang kadar insulinnya agak tinggi, kemungkinan bayi saya kekurangan gula darah sangat possible. Apabila saat itu bayi ngga ditreatment dengan baik, maka kemungkinan terburuk bisa terjadi kerusakan jaringan otak. Waw!!
    2. Kasus kedua terjadi pada istri bosa saya yang kehilangan anak usia 8 bulan karena keyakinannya pada sebuah buku petunjuk kesehatan yang dibelikan suaminya dari luar negeri. Buku tebal berbahasa inggris yang secara mendetail menjelaskan menganai berbagai jenis penyakit, penyebab, gejala, obat yang dianjurkan serta kapan ke dokter. Mungkin karena terlalu confident, saat si anak demam panas, maka ibu ini hanya kominikasi via telpon dengan dokter dan memutuskan memberi obat sendiri. Akibatnya si meninggal dunia ntah karena over dosis atau apa. Sangat menyedihkan kisahnya.
    3. Kasus dokter di RS Pertamina yang selalu didebat pasiennya. Si dokter mencurigai anak kena demam berdarah, namun karena gejala fisik seperti bintik tidak tampak dan panas sudah turun, si orang tua mendebat dokter dan menolak untuk test darah. Akhirnya dokter itupun bertaruh seperti ini: Pokoknya ibu laksanakan test darah, jika hasilnya negatif semua biaya saya yang tanggung. Ketika di test darah, ternyata si anak memang positif DBD. Virus dan bakteri semakin bermutasi, gejala suatu penyakit kadang tidak lagi baku seperti itu-itu saja. Jadi kita harus lebih waspada.

    Apapun contoh2 kasus yang saya sampaikan diatas, saya tetap mendukung agar kita lebih pintar dan kritis serta menimba informasi sebanyak-banyaknya. Cerita saya hanya sebagai warning saja agar kita tidak over confident yang nantinya malah berakibat fatal. Saran saya sih, saat perdebatan menunjukkan jalan buntu, atau dokter mau saja menerima argument kita tapi dengan terpaksa, better 2 find second opinion.

    Salam sehat

    DY

    Comment by Anonymous — August 30, 2007 @ 6:09 am

RSS feed for comments on this post.

Leave a comment

Line and paragraph breaks automatic, e-mail address never displayed, HTML allowed: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <code> <em> <i> <strike> <strong>























Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham