<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?><!-- generator="wordpress/1.5.1-alpha" -->
<rss version="2.0" 
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/">
<channel>
	<title>Comments on: Imunisasi Simultan 1</title>
	<link>http://mirnamuska.blogsome.com/2006/04/21/imunisasi-simultan-1/</link>
	<description>Just another WordPress weblog</description>
	<pubDate>Tue, 15 Dec 2009 07:57:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=1.5.1-alpha</generator>

	<item>
		<title>by: Anonymous</title>
		<link>http://mirnamuska.blogsome.com/2006/04/21/imunisasi-simultan-1/#comment-83</link>
		<pubDate>Thu, 30 Aug 2007 06:09:53 +0100</pubDate>
		<guid>http://mirnamuska.blogsome.com/2006/04/21/imunisasi-simultan-1/#comment-83</guid>
					<description>Aku baca tulisan mbak kayanya ada semacam rasa percaya diri yang cukup besar menyoal kesehatan anak. Seru memang dimana kita bisa berargument dengan dokter dengan menghadirkan berbagai artikel dan sumber2 terpercaya di milis atau internet atau smart parent lainnya. Hanya saja hal tersebut jangan sampai mebuat kita keblabasan, dimana dokter ataupun tenaga medis justru hanya ditempatkan sebagai pelaksana saja. Misalnya hanya karena bisa nyuntik dan memiliki otorisasi menuliskan resep. Sedangkan obat dan diagnosanya kita yang menentukan. Aku setuju banget kok dengan dr. Wati, bahwa kita harus menjadi konsumen kesehatan yang smart. Hanya saja jangan sampai kita menjadi overconfident aja. Gimanapun mereka (dokter-red) belajar dan mengamati selama bertahun-tahun tentang ilmu kesehatan dan kedokteran, sedangkan kita hanya 6 bulan diskusi lewat milis. Jangan sampai kita terjebak! Aku punya 3 pengalaman tentang hal ini:
1. Waktu anak saya masuk inkubator karena dokter mendiagnosa anak saya yang baru lahir gula darahnya rendah, jadi di infus glukosa. Saya menuding dokter dan pihak rumah sakit komersial saja. Mengingat ongkos inkubator per malam Rp 400rb, apalagi komentar dari dokter kandungan saya kurang mendukung hal itu dimana beliau bilang gini, &quot;itu menurut dr anaknya. Menurut saya sih ngga perlulah sampai inkubator segala. Saya dulu kecil di bedong saja bisa jadi dokter spesialis kok&quot; secara tersirat dia ingin mengatakan treatment ke anak saya berlebihan. Apalagi memang bayi saya lahirya 3,8 kg dan kelihatan gagah sekali dibanding bayi2 yang lain. Saya menyimpan kegeraman tersebut cukup lama terutama kepada DSA nya, terlebih saat itu beliau sangat suka ditemui untuk minta penjelasan. Seperti orang yang melarikan diri saja. Sampai beberapa minggu yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman yang juga berprofesi dokter, dan dia menjelaskan secara ilmiah namun kominikatif bahwa dalam kondisi saya yang kadar insulinnya agak tinggi, kemungkinan bayi saya kekurangan gula darah sangat possible. Apabila saat itu bayi ngga ditreatment dengan baik, maka kemungkinan terburuk bisa terjadi kerusakan jaringan otak. Waw!!
2. Kasus kedua terjadi pada istri bosa saya yang kehilangan anak usia 8 bulan karena keyakinannya pada sebuah buku petunjuk kesehatan yang dibelikan suaminya dari luar negeri. Buku tebal berbahasa inggris yang secara mendetail menjelaskan menganai berbagai jenis penyakit, penyebab, gejala, obat yang dianjurkan serta kapan ke dokter. Mungkin karena terlalu confident, saat si anak demam panas, maka ibu ini hanya kominikasi via telpon dengan dokter dan memutuskan memberi obat sendiri. Akibatnya si meninggal dunia ntah karena over dosis atau apa. Sangat menyedihkan kisahnya.
3. Kasus dokter di RS Pertamina yang selalu didebat pasiennya. Si dokter mencurigai anak kena demam berdarah, namun karena gejala fisik seperti bintik tidak tampak dan panas sudah turun, si orang tua mendebat dokter dan menolak untuk test darah. Akhirnya dokter itupun bertaruh seperti ini: Pokoknya ibu laksanakan test darah, jika hasilnya negatif semua biaya saya yang tanggung. Ketika di test darah, ternyata si anak memang positif DBD. Virus dan bakteri semakin bermutasi, gejala suatu penyakit kadang tidak lagi baku seperti itu-itu saja. Jadi kita harus lebih waspada.

Apapun contoh2 kasus yang saya sampaikan diatas, saya tetap mendukung agar kita lebih pintar dan kritis serta menimba informasi sebanyak-banyaknya. Cerita saya hanya sebagai warning saja agar kita tidak over confident yang nantinya malah berakibat fatal. Saran saya sih, saat perdebatan menunjukkan jalan buntu, atau dokter mau saja menerima argument kita tapi dengan terpaksa, better 2 find second opinion.

Salam sehat

DY</description>
		<content:encoded><![CDATA[	<p>Aku baca tulisan mbak kayanya ada semacam rasa percaya diri yang cukup besar menyoal kesehatan anak. Seru memang dimana kita bisa berargument dengan dokter dengan menghadirkan berbagai artikel dan sumber2 terpercaya di milis atau internet atau smart parent lainnya. Hanya saja hal tersebut jangan sampai mebuat kita keblabasan, dimana dokter ataupun tenaga medis justru hanya ditempatkan sebagai pelaksana saja. Misalnya hanya karena bisa nyuntik dan memiliki otorisasi menuliskan resep. Sedangkan obat dan diagnosanya kita yang menentukan. Aku setuju banget kok dengan dr. Wati, bahwa kita harus menjadi konsumen kesehatan yang smart. Hanya saja jangan sampai kita menjadi overconfident aja. Gimanapun mereka (dokter-red) belajar dan mengamati selama bertahun-tahun tentang ilmu kesehatan dan kedokteran, sedangkan kita hanya 6 bulan diskusi lewat milis. Jangan sampai kita terjebak! Aku punya 3 pengalaman tentang hal ini:<br />
1. Waktu anak saya masuk inkubator karena dokter mendiagnosa anak saya yang baru lahir gula darahnya rendah, jadi di infus glukosa. Saya menuding dokter dan pihak rumah sakit komersial saja. Mengingat ongkos inkubator per malam Rp 400rb, apalagi komentar dari dokter kandungan saya kurang mendukung hal itu dimana beliau bilang gini, &#8220;itu menurut dr anaknya. Menurut saya sih ngga perlulah sampai inkubator segala. Saya dulu kecil di bedong saja bisa jadi dokter spesialis kok&#8221; secara tersirat dia ingin mengatakan treatment ke anak saya berlebihan. Apalagi memang bayi saya lahirya 3,8 kg dan kelihatan gagah sekali dibanding bayi2 yang lain. Saya menyimpan kegeraman tersebut cukup lama terutama kepada DSA nya, terlebih saat itu beliau sangat suka ditemui untuk minta penjelasan. Seperti orang yang melarikan diri saja. Sampai beberapa minggu yang lalu, saya berdiskusi dengan seorang teman yang juga berprofesi dokter, dan dia menjelaskan secara ilmiah namun kominikatif bahwa dalam kondisi saya yang kadar insulinnya agak tinggi, kemungkinan bayi saya kekurangan gula darah sangat possible. Apabila saat itu bayi ngga ditreatment dengan baik, maka kemungkinan terburuk bisa terjadi kerusakan jaringan otak. Waw!!<br />
2. Kasus kedua terjadi pada istri bosa saya yang kehilangan anak usia 8 bulan karena keyakinannya pada sebuah buku petunjuk kesehatan yang dibelikan suaminya dari luar negeri. Buku tebal berbahasa inggris yang secara mendetail menjelaskan menganai berbagai jenis penyakit, penyebab, gejala, obat yang dianjurkan serta kapan ke dokter. Mungkin karena terlalu confident, saat si anak demam panas, maka ibu ini hanya kominikasi via telpon dengan dokter dan memutuskan memberi obat sendiri. Akibatnya si meninggal dunia ntah karena over dosis atau apa. Sangat menyedihkan kisahnya.<br />
3. Kasus dokter di RS Pertamina yang selalu didebat pasiennya. Si dokter mencurigai anak kena demam berdarah, namun karena gejala fisik seperti bintik tidak tampak dan panas sudah turun, si orang tua mendebat dokter dan menolak untuk test darah. Akhirnya dokter itupun bertaruh seperti ini: Pokoknya ibu laksanakan test darah, jika hasilnya negatif semua biaya saya yang tanggung. Ketika di test darah, ternyata si anak memang positif DBD. Virus dan bakteri semakin bermutasi, gejala suatu penyakit kadang tidak lagi baku seperti itu-itu saja. Jadi kita harus lebih waspada.</p>
	<p>Apapun contoh2 kasus yang saya sampaikan diatas, saya tetap mendukung agar kita lebih pintar dan kritis serta menimba informasi sebanyak-banyaknya. Cerita saya hanya sebagai warning saja agar kita tidak over confident yang nantinya malah berakibat fatal. Saran saya sih, saat perdebatan menunjukkan jalan buntu, atau dokter mau saja menerima argument kita tapi dengan terpaksa, better 2 find second opinion.</p>
	<p>Salam sehat</p>
	<p>DY
</p>
]]></content:encoded>
				</item>
</channel>
</rss>
