Mirna Muska’s

May 18, 2006

Pamit dulu ya…

Filed under: Personal

Minggu lalu waktu kunjungan rutin ke dr Ovy, diputuskan untuk operasi caesar hari Jumat besok, tanggal 19 Mei 2006. Pertimbangannya, karena ini caesar yang ketiga, maka dr Ovy nggak berani ngambil resiko aku keburu kontraksi (beresiko jahitan robek katanya), jadi setelah 38 minggu harus segera dioperasi. Kenapa pilih hari Jumat ? Selain hari baik, ya supaya Ijal bisa ambil cutinya dikit tapi liburnya lama, minggu depannya ada long weekend kan… emoticon.

Sampai waktu yang belum bisa tentukan, kayaknya aku bakal nggak aktif dulu di blog (waduh, belom-belom aku udah ngerasa kehilangan waktu nulis-nulis dan jalan-jalan ke blog temen-temenku…emoticon). Mohon maaf buat teman-teman semua, ya, atas segala kesalahan aku yang disengaja maupun tidak disengaja, lahir dan batin. Semoga Tuhan mencatat amal kebaikan teman-teman semua…

Ya Allah yang Maha Besar, menjelang detik-detik melahirkan yang ternyata bikin deg-deg-an juga, mohon agar semua proses sebelum, selama, dan sesudah melahirkan dilancarkan dan dimudahkan, dan kami dianugerahkan seorang anak yang sehat jasmani, sehat rohani, dan mempunyai hati yang cenderung hanya kepada Engkau, ya Allah… amin ya robbal alamin…

emoticon

May 13, 2006

Sabar dan Ikhlas

Filed under: Personal

Sekitar 2 bulan yang lalu, aku dapet beberapa email mengenai perjuangan seorang wanita yang membesarkan 15 orang anaknya seorang diri karena sang suami meninggal dunia. Abis baca artikel itu, rasanya aku maluuuu banget, apalagi kalo inget apa yang hari itu udah aku kerjain ke anak-anak emoticon. Aku ngerasa malu banget karena kok aku segitu nggak sabarannya sama anak-anak, padahal aku cuma cape dan anak-anak cuma minta perhatian. Aku ‘cuma’ punya 2 anak dengan 2 asisten gitu, lho, kok rasanya kayak orang paling menderita sedunia emoticon.

Akhirnya aku cari sumber artikel itu, dan ketemu deh bahwa artikel itu berasal dari Hidayatullah.Com yang judulnya “Wanita Mulia - Mengantar 15 Anaknya dengan Modal Ikhlas”. Alhamdulillah aku udah dapet ijin dari redaksi dan penanggung jawab Hidayatullah.com (yang diwakili oleh Bpk Cholis Akbar dan Bpk Syamsul Arief) untuk mengutip artikel tsb di blog aku (makasih banyak, ya, Pak..). Aku kepingin banget sharing artikel itu karena artikel itu sangat inspiring buat ibu-ibu seperti aku, yang suka kehilangan kesabaran kalau lagi cape dan anak-anak lagi ‘lucu-lucunya’, sekaligus buat ngingetin aku bahwa keikhlasan itu sangat penting dalam mendidik dan membesarkan anak.

——————————————–

"Wanita Mulia", Mengantar 15 Anaknya dengan Modal Ikhlas
Jumat, 24 Maret 2006 - 15:02:29 WIB

Hidayatullah.com–Jika ukurannya gelar akademis, Mulia Kuruseng termasuk orang yang sukses dalam mendidik anak. Janda beranak 15 ini berhasil mengantarkan anak-anaknya menggapai gelar sarjana, ada yang profesor, doktor, master, insinyur, dan letnan.

Sejak tahun 1985, Mulia menjadi single parent (orangtua tunggal) bagi 15 anaknya. “Saya berfungsi sebagai ibu sekaligus bapak,” ungkapnya bersemangat. As’ad, sang suami, meninggal pada Oktober 1985 akibat penyakit hipertensi dan jantung.

As’ad seorang pedagang kain, pakaian jadi, dan sarung Bugis di Pare Pare (Sulawesi Selatan). Waktu itu, As’ad termasuk seorang pengusaha yang sukses. Omset usahanya tiap bulan mencapai Rp 100 juta.

Mulia bukan seorang guru apalagi bergelar sarjana, tapi hanya tamatan SD. As’ad pun cuma tamat SMA. “Saya menikah saat kelas II Muallimin, saya hanya punya ijazah SD,” kenangnya.

Bagaimana bisa ibu rumah tangga ini sukses mengantar 15 anaknya meraih berbagai gelar akademis? Wartawan Hidayatullah menyempatkan diri untuk berbincang-bincang dengan nenek dari 24 cucu ini di kediamannya, Jl Matahari No 20 Pare-Pare.

Bagaimana perasaan Anda dalam membesarkan 15 anak sendirian?

Saya tidak pernah mengeluh. Saat itu saya tidak berpikir bagaimana nanti. Saya nekad saja. Alhamdulillah, Allah selalu berikan saya rezeki sedikit demi sedikit.

Apa saja yang Anda lakukan?

Saya berusaha melanjutkan usaha Bapak. Kan Bapak punya kios, ada barangnya. Dulu Bapak berhasil. Tetapi saat meninggal, semua piutang tersendat.

Saya sampaikan kepada anak-anak agar tetap melanjutkan sekolah. Jangan ada yang berpikir putus sekolah. Kan masih ada Tuhan. Alhamdulillah,  itu semua terwujud. Waktu itu yang bungsu berusia tiga tahun.

Bagaimana dengan anak-anak yang masih kecil waktu itu?

Kebetulan waktu itu anak yang kedua (Suryani) dan ketiga (Indriyati) sudah menikah. Indriyati sebenarnya belum selesai kuliah, tapi dia sudah menikah. Merekalah yang banyak membantu saya mengurus adik-adik. Merekalah yang men-support adik-adiknya untuk maju sekolah.

Apa yang paling Anda tekankan dalam mendidik anak-anak?

Prinsip saya mendidik anak-anak ada tiga hal, yaitu ikhlas, jujur, dan sabar. Kejujuran saya tanamkan sejak mereka kecil, ini turunan dari kakeknya. Kami dulu dididik untuk senantiasa jujur. Jika ada makanan di meja, tidak ada yang langsung mau makan, harus dibagi dulu. Jika ada uang di meja, mereka berteriak mencari siapa yang punya. Jadi, di rumah ini tidak pernah terjadi kehilangan uang.

Dengan 15 anak, untuk bersikap sabar tentu berat ya. Pernahkah Anda memukul atau mencubit  mereka?

Saya tidak pernah memukul mereka. Contohnya, si bungsu pernah mogok makan. Gara-garanya minta dibelikan sepeda motor karena temannya semua sudah beli motor. Saya tidak marah. Saya hanya bersabar. Tiba-tiba temannya yang punya motor tabrakan dan meninggal dunia. Saya sampaikan kepada dia, “Saya sayang kamu Nak.” Apalagi memang saya tidak punya uang.

Saya selalu mengeluarkan bahasa-bahasa yang sopan. Mereka tidak pernah dipukul, juga tidak pernah dibentak. Jika ada yang salah, saya tegur saat dia lagi sendiri agar tidak tersinggung, di saat adik atau kakaknya tidak ada.

Jika ada yang mau saya tegur, saya carikan waktu khusus. Karena jika anak nakal satu, bisa jadi nakal semua. Saya selalu ingatkan dengan bahasa sopan. Anak-anak ini semua (sambil menunjuk foto-foto mereka) tidak ada yang pernah kena cambuk.

Kalau marah sama mereka, saya pergi wudhu kemudian shalat sunah. Nanti setelah tenang baru saya nasihati mereka.

(Hasmi As’ad (48), anak sulungnya, mengaku belum pernah merasakan kerasnya tangan ibunya. “Saya kira adik-adik juga begitu,” kata dokter yang kini menjadi Kepala Kesehatan Pertamina Wilayah Selatan.

Kalau marah, katanya, sang ibu biasanya diam. “Baru beberapa saat kemudian Ibu bicara,” ujarnya.)

Bagaimana menanamkan keikhlasan?

Saya tidak pernah berpikir untuk mendapat gantinya, atau anak-anak membalas jasa-jasa saya. Tidak, saya betul-betul ikhlas.

Saya juga tekankan pada mereka untuk ikhlas dalam memberi. Jika saya minta mereka membantu adik-adiknya, harus betul-betul ikhlas, jangan dipaksakan. Saya bilang kepada yang punya istri, jangan bebani istrimu. Jika tidak setuju, jangan dilakukan. Tetapi justru menantu-menantu yang paling dulu memberi. Mereka bilang, “Kami ikhlas.”

(Keluarga ini punya kebiasaan saling membantu, bila saudaranya yang lain memerlukan dana. Contonya saat Sumarni (anak ke-14) mau beli mobil, Mulia menghubungi anak-anaknya yang lain. Akhirnya mereka patungan, ada yang memberi Rp 5 juta, Rp 10 juta, sehingga terkumpul 70 juta untuk beli mobil).

Dalam hal ibadah, bagaimana Anda mendidik anak-anak?

Saya tidak pernah menyuruh mereka untuk shalat, tetapi saya harus mencontohkannya. Saya dulu yang kerjakan, baru kemudian saya suruh mereka. Kita tidak bisa suruh anak-anak sebelum kita mencontohkannya.

Untuk kesehariannya, saya melarang anak-anak memasukkan urusan-urusan di luar ke dalam rumah, termasuk juga dalam berbahasa. Bahasa yang tidak dipakai di rumah dilarang masuk ke dalam rumah. Bahasa di luar dipakai di luar saja, tidak boleh masuk ke dalam rumah.

Dalam hal ruhani, kebetulan saya bertetangga dengan KH Abdul Pa’baja (ulama besar di Pare Pare). Beliau juga yang banyak membantu menanamkan nilai-nilai moral pada anak-anak. Di sinilah terbentuknya fondasi anak-anak.

Semua anak Anda bergelar sarjana, apakah memang ditekankan soal ilmu?

Oh, tidak. Saya cuma tekankan bahwa siapa yang tidak sekolah ayo bantu ibu. Akhirnya mereka semua mau sekolah. Saya juga buat persaingan di antara mereka. Saya tidak pernah secara langsung menekankan mereka untuk sekolah, saya hanya buat persaingan. Siapa yang rangking I akan lebih tinggi hadiahnya daripada yang rangking II. Jadi, mereka terus berlomba. Mereka rata-rata rangking satu, dan SD-nya lima tahun.

Saya tidak pernah menyogok, baik ketika anak-anak sekolah ataupun mencari pekerjaan.
Rezeki itu datangnya dari Allah, tidak perlu disogok. Insya Allah, di rumah ini bersih. Untuk bekerja, anak-anak bilang, “Saya tidak usah bekerja jika harus menyogok.”

Mengapa tidak berpikir untuk menikah lagi?

Wah, siapa yang mau mengurus anak sebanyak ini? He…he…. Yang jelas sejak suami meninggal, saya berjanji untuk melanjutkan perjuangannya dengan menyekolahkan anak-anak. Bahkan saya pernah bersumpah untuk itu, saat suami saya di rawat di rumah sakit.

Apa aktivitas Anda sekarang?

Saya di rumah saja, kadang ke pasar jaga toko, itu pun tidak serius. Saya hanya duduk, berdzikir, dan mengaji. Jika di toko, saya kadang menghabiskan dua juz dari pagi hingga Dhuhur.* (Sarmadani, Makasar/hidayatullah.com)

***

Nama-nama anak Hj Mulia Kuruseng:

1. Dr Hasmi As’ad (48), alumnus Fakultas Kedokteran Universitas Hasanudin (Unhas), saat ini menjadi Kepala Kesehatan Pertamina Wilayah Sulawesi.

2. Prof DR dr Hj Suryani As’ad, MSc, SpGK (46), profesor muda di Fakultas Kedokteran Unhas.

3. Dr Indriyati As’ad (44), MM. Dokter umum di LNG Bontang (Kalimantan Timur), meraih gelar master dari Universitas Mulawarman, Samarinda.

4. Dr Imran As’ad, SpD (42), dokter spesialis penyakit dalam alumnus Unhas, bertugas di Luwuk.

5. Ir Siswana As’ad (40), bekerja di Kantor Poleko Group, Makassar.

6. Ir Solihin As’ad, MT (39), sedang melanjutkan S-3 di Austria.

7. Wahidin As’ad (37), drop-out Fakultas Ekonomi Unhas, pengusaha sukses di Makassar.

8. Ir Suriasni As’ad (37), arsitek dari Unhas, kontraktor.

9. Ir Nurrahman As’ad, MT (34), alumnus ITB, dosen di Universitas Islam Bandung (Unisba).

10. Ir Rahmat Hidayat, MS (33), master dari ITB, kini sedang menempuh studi doktor di Jepang.

11. Ir Jabbar Ali As’ad (31), dosen Sekolah Tinggi Teknologi (STT) Baramuli Kabupaten Pinrang.

12. Munir Wahyudi, SE, Ak, MM (29), magister dari Universitas Padjajaran (Unpad) Bandung, dosen beberapa perguruan tinggi di Bandung.

13. Ir Muhammad Arif As’ad, MM (27), alumnus Fakultas Teknik UGM, gelar masternya dari ITB, saat ini bekerja pada PT Indika Entertaimen Jakarta.

14. Sumarni Aryani As’ad, SKed (26), alumnus Fakultas Kedokteran Unhas.

15. Letda Kurnia Gunadi (24), alumnus Akademi Angkatan Laut, Surabaya.

May 3, 2006

Cake Coklat Mamah

Filed under: Personal

Pagi-pagi setelah sarapan, Vilo bilang sakit perut. Jalannya juga agak-agak susah, kayak orang keseleo gitu. Udah aja, kakinya aku urut-urut pakai minyak tawon, kayaknya memang agak pegal setelah tengah malam tadi dia terbangun dan nangis karena kesemutan :( . Trus perutnya aku usap-usap pakai minyak yang agak panas dicampur minyak tawon. Aku curiga dia agak anyang-anyangan karena yang sakit perut bagian bawah. Alhamdulillah nggak lama dia bilang perutnya udah nggak sakit lagi, tapi karena aku udah telanjur in the mood dia nggak sekolah, jadi Vilo di rumah aja, deh… (kalau Abang Vilo di rumah, Algi kan jadi ada temen main, jadi si Mama bisa main komputer lama……hihihi..… *keluar tanduknya emoticon).

Lagi mikir-mikir mau bikin hari yang agak lain dari yang biasa, aku putusin untuk bikin cake coklat resep Mamahku yang gampang banget bikinnya, tinggal cemplung-cemplung. Seperti biasa, anak-anak dengan penuh semangat pingin bantuin walaupun yang ada malah ngeberantakin ;-) . Jadi pingin tau, anak-anak umur berapa ya boleh bener-bener bantuin masak ? Kan enak tuh kalau kayak anaknya mb Lita, biarpun cowok tapi gape masaknya.

Ini dia resep Cake Coklat ala Mamahku. Biasanya takarannya sih kira-kira, tapi hari ini aku catet takarannya, untuk referensi di masa depan (soalnya kemarin-kemarin, kalau pas mau bikin kue ini, pasti aku telfon Mamahku dulu untuk tanya takarannya).

Campuran 1:
Gula pasir 1 bagian (1 bagian = 1 gelas/mug ukuran 300 cc)
Mentega 200 gr
Telur 6 buah

Campuran 2:
Terigu 2 bagian (1 bagian = 1 gelas/mug ukuran 300 cc)
Coklat Bubuk 5 sdt (atau 3 sdt kalau mau warna kue coklat muda)
Baking Powder 2 sdt (atau kalau ada, bisa digunakan TBM 1 sdm +  VX 1 sdt yg dicampur dg Campuran 1)

Campuran 3:
Mentega 200 gr
Gula halus 4 sdm (atau sesuai selera)
Air 70 cc

Cara Membuat:

  1. Campuran 1: Gula pasir & mentega dikocok sampai halus, lalu masukkan telur satu per satu, kocok sampai tercampur. Setelah itu masukkan air 100 ml sedikit demi sedikit, kocok sebentar (kalau menggunakan TBM-VX, masukkan TBM-VX lalu dikocok sampai tercampur).
  2. Setelah itu, masukkan Campuran 2 sedikit demi sedikit sambil diaduk sampai tercampur seluruhnya.
  3. Masukkan adonan ke atas loyang yang sudah diolesi mentega dan ditaburi tepung terigu.
  4. Masukkan loyang ke oven yang sudah dipanaskan terlebih dahulu.
  5. Kalau kue sudah berbau wangi, coba tusuk kue dengan garpu. Apabila tidak ada kue yang melekat pada garpu, berarti kue sudah matang. Angkat & dinginkan.
  6. Kocok Campuran 3 sampai mentega halus dan menjadi cream. Kalau tinggi kue sekitar 3 cm (karena memakai loyang yang lebar), maka cream dioleskan diatas kue dan ditaburi mesis. Kalau tinggi kue sekitar 7 cm, maka cream dapat dioleskan di tengah kue & diatasnya. Sebagai alternatif, ditengah kue dapat dioleskan selai nanas atau strawberry instead of cream. Ini juga enak, lho…

Kalau mau rasanya lebih coklat, bisa ditambah chocolate chip setelah Campuran 1 + Campuran 2.

Hasilnya ? Enak banget, deh, Ma, kata Vilo emoticon.

April 21, 2006

Imunisasi Simultan 1

Filed under: Personal

Salah satu milis yg aku ikuti adalah Milis Sehat. Milis ini adalah (aku quote dari deskripsi milisnya) sarana diskusi dan sharing pengalaman orang tua seputar seluk-beluk kesehatan anak sehingga diharapkan para orangtua memiliki pengetahuan kesehatan anak yg baik, serta membentuk pola pikir yang kritis dan rasional sehingga para orang tua mampu membina kemitraan yang baik dan sejajar dengan para tenaga medis. Pertama kali dibentuk tahun 2003, milis ini hanya diasuh oleh satu dokter, yaitu dr Purnamawati S. Pujiarto, Dr, SpAK, MMPaed. Kalau sekarang, sih, udah banyak dokter yang bergabung di milis, dari dokter umum, dokter gigi, sampai psikiater. Sejak Agustus 2005, diskusi-diskusi di milis (yg sehari bisa ratusan email) mulai dirangkum di website milis sehat beserta artikel-artikel pendukung lainnya. Aku sendiri cocok dengan point of view soal kesehatan di milis ini, rasional dan bisa diterima nalar aku. Alhamdulillah, semenjak ikut milis Sehat, aku nggak gampang panik lagi kalau anak-anak panas/sakit. Aku jadi lebih tau apa yang harus dilakukan pertama kali kalau anak sakit dan nggak langsung ke dokter kecuali dalam keadaan tertentu.

Bulan Februari 2006 yang lalu sempat ada liputan khusus tentang milis ini di Kompas Minggu dibawah judul Berjuang Menjadi Orangtua Cerdas dan Agar Bayi Tumbuh Sehat. Worth reading, lho…

Salah satu ilmu yang aku dapet dari milis sehat adalah soal Imunisasi Simultan. Imunisasi Simultan maksudnya imunisasi yang dilakukan dengan memberikan lebih dari satu vaksin secara bersamaan. Imunisasi Simultan dapat dilakukan dengan menggunakan vaksin kombinasi (misalnya DPT dg HIB yang menggunakan vaksin TetraHib) atau bila vaksin kombinasinya belum tersedia, menggunakan beberapa vaksin secara bersamaan. Manfaat Imunisasi Simultan antara lain (aku quote dari buku karangan dr Wati yang berjudul Bayiku, Anakku):

1.    Memberikan perlindungan dini pada anak pada kurun usia yang rentan infeksi, yaitu usia 12 bulan pertama (pada usia itu anak sudah memperoleh semua imunisasi dasar mulai dari polio, hep B, BCG, DPT, HiB)

2.    Mengurangi angka kunjungan ke dokter/rumah sakit. Ini berarti menghemat waktu, tenaga, dan uang, serta mengurangi trauma pada si anak dan mengurangi kemungkinan anak terpapar oleh anak lain yang sakit (kalau kata dr Wati: ‘padahal anakmu kan sehat cuma mau imunisasi, bisa-bisa pulang imunisasi anakmu dapat bonus demam, atau pilek, dst dst’)

Ada beberapa kekhawatiran sehubungan dengan pemberian imunisasi simultan ini. Salah satu diantaranya adalah “memberikan beberapa suntikan vaksinasi untuk penyakit yang berbeda secara bersamaan pada anak dapat meningkatkan resiko timbulnya efek samping dan membuat sistem kekebalan tubuh anak kelebihan beban”. Penjelasan terhadap kekhawatiran ini dijelaskan di web Sehat dalam bahasa Indonesia, yang merupakan translasi dari artikel bahasa Inggris yang ada di web CDC.

Selain itu, ada aturan/prinsip yang mengatur mengenai pemberian imunisasi simultan, jadi kita nggak asal kasih misalnya vaksin A dengan vaksin B, trus minggu depannya kita kasih vaksin C dengan vaksin A-kedua, dst. Guideline utamanya sih:

  • Vaksin yang dilemahkan +  Vaksin yang dilemahkan = bisa simultan kapan saja
  • Vaksin yang dilemahkan +  Vaksin Hidup = bisa simultan kapan saja
  • Vaksin Hidup + Vaksin Hidup = bisa diberikan simultan, tetapi apabila tidak simultan, harus ada  jarak/rentang pemberian 4 minggu antara satu vaksin hidup dengan vaksin hidup lainnya.

Yang termasuk Vaksin yang dilemahkan (toksoid) adalah: Hepatitis A, Hepatitis B, DPT, HIB, Typus. Sedangkan yang termasuk Vaksin Hidup adalah: Polio, BCG, MMR, Campak, Cacar Air/Varicella

Aturan/prinsip detailnya bisa dilihat di web sehat atau di worldwidevaccines.com.

Btw. seluk beluk imunisasi ini dibahas lumayan detail di buku dr Wati, selain juga termasuk topik bahasan yang seriiingg banget dibahas di milis. Jadi kalau mau tau banyak, beli deh bukunya dr Wati (eits, jangan salah, aku bukan tim marketingnya, lho, aku cuma ngerasa banyak yang aku dapet dari buku ini) atau ikutan milisnya.

March 31, 2006

Cape Banget

Filed under: Personal

Cape banget, deh….

Pagi ke Citos sekalian ngajak keponakan yang ibunya lagi jalan-jalan ke Bandung bareng temen-temen arisannya. Cuma main di Timezone, trus beli mainan, terakhir makan siang, tapi sampe rumah Mamah rasanya capeee banget. Pegelnya tuh dari punggung sampai ujung kaki belakang. Dibawa tiduran malah makin terasa pegelnya. Hamil belum 8 bulan, tapi rasanya lebih sering cape daripada waktu hamil kedua (yg waktu 8 bulan masih jalan-jalan ke Bandung & waktu 9 bulan masih ikutan workshop di Puncak). Nggak bisa tidur juga karena harus jagain empat anak balita yang lagi dalam masa heboh-hebohnya, karena kasian kalau semuanya dihandle mb Minah (makanya sebel banget ngeliat Ijal yg tidur dengan aman sentausa kayak nggak ada apa-apa, padahal gue gitu loo yang hamil, tapi kebutuhan tidurnya kayak dia yang ngurus anak-anak seharian dan hamil sembilan bulan :( ).

Udah 24 jam nih sejak jalan-jalan itu, tapi masih cape banget rasanya… Gue emang butuh uninterruptible sleep, nih, sekaliii aja… (udah kasih proposal tapi belum di-approve juga… :( ).

March 24, 2006

Perpanjang STNK

Filed under: Personal

Hari Selasa kemarin aku sama Ijal ke Komdak untuk perpanjang STNK. Selama ini perpanjangan  STNK diurus oleh agen, tapi setelah baca-baca cerita behwa urus STNK sendiri nggak begitu susah, aku jadi memberanikan diri ke Komdak. Ternyata memang nggak susah, tuh, ngantrinya aja agak lama (3 jam) karena aku baru sampe komdak jam 10.30 (ada yang cerita cuma antri 1.5 jam karena pas jam 8 pagi udah sampe Komdak).

Jadi prosesnya begini (setelah masuk gedung SAMSAT):

1.    Ke Loket 1a untuk antri ambil formulir STNK (perpanjangan, pembuatan baru, dsb).

2.    Isi formulir tersebut (bawa pulpen sendiri), lalu berikan ke Loket 1d bersama fotocopy & dokumen asli KTP, STNK, & BPKB. Setelah itu kita dapet nomor antrian.

3.    Kemudian di Loket 2 nomor antrian kita dipanggil (panggilnya nggak urut, jadi lebih baik tunggu aja dideket Loket 2, nggak usah kemana-mana), trus nanti kita dapet Surat Setoran Pajak Daerah (ada 2 lembar, warna biru & putih) yang isinya jumlah biaya STNK yang harus kita bayar.

4.    Setelah itu kita antri di Kasir (ada 3 kasir), trus bayar sejumlah uang tsb (ctt: di Komdak ada 1 ATM Bank DKI yang merupakan ATM Bersama). Surat Setoran Pajak Daerah yang kita punya akan di-cap lunas.

5.    Terakhir, kita tinggal ambil STNK kita. Cara ambilnya, petugas akan memanggil nama & alamat kita, jadi kita tinggal tunggu dipanggil aja (nggak perlu antri di depan loket). Jangan lupa, setelah bayar di kasir, kita kasih lembaran Surat Setoran Pajak Daerah yang warna biru ke petugas Loket Pengambilan STNK, karena berdasarkan kertas biru itu petugas akan memanggil kita.

Udah, deh, nggak ribet dan nggak dikerubutin calo. Dari langkah 1-4 sih nggak lama, cuma 1 jam, langkah ke-5 nya itu yang lama karena kepotong makan siang (mereka istirahat jam 12-13 tepat), dan ternyata pemanggilan dilakukan berdasarkan kertas biru (kita nunggu-nunggu dipanggil sambil kertas birunya dipegang sendiri aja, ya jadi nggak dipanggil-panggil).

Kantor SAMSAT itu letaknya di sebelah kanan kalau kita masuk Komdak dari SCBD (sebelah gedung Bank Mandiri Gatot Subroto). Gedungnya baru dan ber-AC. Jam kerjanya dari jam 8 – 15 (Sabtu juga buka, cuma aku lupa sampai jam berapa).

O iya, Wajib Uji Emisi masih belum berlaku, lho, baru akan berlaku 4 April. Satu lagi, di Kompas 21 Maret ada berita tentang Layanan STNK Keliling. Rencananya ada 5 pekan ujicoba mobil keliling ini dengan jadwal sbb.:

Pekan pertama, 13-18 Maret 2006, di Taman Fatahilah Jakarta Barat.
Pekan kedua, 20-25 Maret 2006, di depan Stadion Mentang, Jalan HOS Cokroaminoto, Jakarta Pusat.
Pekan ketiga, 27 Maret – 1 April 2006, di depan Mal Artha Gading, Jakarta Utara.
Pekan keempat, 3-8 April 2006, di depan Pasar Rawamangung, Jakarta Timur.
Pekan kelima, 10-15 April 2006, di halaman Kebon Binatang Ragunan, Jakarta Selatan.

Nomor telepon yang bisa dihubungi adalah:
021-7088-3322 Pelayanan SAMSAT Keliling
021-829-9444 atau SMS ke 1717 (TMC)
021-570-8037 atau 0816-900911 Radio Suara Metro

March 10, 2006

Langsing part 1

Filed under: Personal

Ini kejadian di awal tahun 2003.

Aku mulai diet karena setelah melahirkan Vilo bobotku masih berlebihan 10 kilo. Setelah Vilo 18 bulan kemarin, ASI ku asli abis…bis…., diperah nggak keluar lagi. Mungkin emang udah abis ‘kali, kan udah diperah sejak Vilo umur 2 bulan karena dia nggak mau nyusu langsung… emoticon. Karena udah nggak nyusuin, jadilah aku berniat menguruskan badanku lagi.

Rani yang pertama kasih tau tentang dr Rosanna, dokter akupuntur di daerah Kuningan, Jakarta Selatan. Aku dari berat 57 kg sekarang jadi 50 kg, dalam waktu 6 minggu (seminggu sekali aku akupuntur). Aku nggak ngerasa pusing atau apa, karena menurutku cara diet dr Rosanna itu alamiah, dia cuma bantu pakai akupuntur untuk ngebantu mengencangkan bagian tubuh yang agak kendur karena diet dan membantu memperlancar proses metabolisma tubuh. Garis besar konsep dietnya adalah model Food Combining nya Andang Gunawan, seperti zat pati bolehnya ketemu sayuran, nggak boleh ketemu daging. Kemudian daging boleh ketemu sayuran, buah dan sayur nggak boleh dimakan barengan, kudu ada jarak 2 jam antara makan yang satu dengan yang lainnya, dll. Berikut contoh jadwal makannya:

Pagi: Buah
Cemilan jam 10: Buah/juice tanpa gula
Siang: Sayur & Daging (ayam/sapi/ikan) atau Sayur & Nasi/Kentang/Zat Pati lainnya
Cemilan jam 4: Buah/juice tanpa gula
Malam: Buah

Aku ikutin jadwal makan itu, 2 minggu langsung turun 3 kg ! Nggak pusing lho, paling berasa laper aja karena kebiasaan makan banyak sebelum ini emoticon. Dr Rosanna ngasih pil untuk dimakan jam 9 & jam 16, yang gunanya untuk menahan lapar dan membantu metabolisma. Trus karena 2 minggu pertama aku udah bisa ikutin dietnya, pil aku dikurangin jadi 1 hari sekali. Di minggu keempat aku malah udah nggak minum pil karena udah terbiasa dengan dietnya. Manfaat yang aku rasain sekarang, selain lebih langsing, aku juga bisa pake lagi baju2 sebelum hamil (aku jadi keliatan lebih muda, deh, karena baju2 nya kan baju2 anak muda, sth hamil & melahirkan, bajunya lebih ke-emak-emak-an emoticon), dan porsi makan ku jadi lebih sedikit. Waktu hamil & menyusui kan porsi makanku banyak banget, susah gitu dikenyanginnya. Sekarang makan dikit aja udah kenyang, padahal nggak makan obat apa-apa.

Sebagai compliment, setiap weekend aku sedikit berbaik hati dengan makan biasa, pagi makan, siang makan, tapi malem nggak makan. Selain karena males makan malem, aku juga kepingin biarpun sesiangan makan banyak, pengaruhnya nggak terlalu banyak ke berat badanku.

Jenis makanan untuk setiap hari itu sebenernya bervariasi, nggak harus seperti jadwal di atas (dikasih daftar variasinya sama dr Rosanna), misalnya:

Pagi: kopi 1 gelas + gula 1 sdt ATAU juice buah tanpa gula ATAU telur rebus 1butir, dll.

Siang: Sayur + nasi 6 sendok ATAU gado-gado

Malam: Buah ATAU Sayur

Satu lagi, ada beberapa buah yang nggak boleh dimakan seperti: durian, melon, lengkeng, nangka, pisang, mangga. Buah yang boleh dimakan misalnya: apel, pir, pepaya, jeruk, dsb.

Trus dr Rosanna juga bilang, kalo memang nggak kuat nggak makan nasi, masih dibolehin makan pagi, ntar dikurangin jadi siang aja. Menurut aku, sih, saran2nya dia make-sense deh, nggak terlalu nyusahin gitu. Dulu sebelum diet, kalo aku bangun pagi nggak minum susu, pasti rasanya laperrrr banget. Padahal susu itu hanya sebagai ganjelan supaya bangun pagi nggak laper, nantinya sih tetep sarapan juga plus buah, belum termasuk cemilan jam 10 ;) . Tapi abis ikutan diet ala dr Rosanna ini, rasa laper aku udah mulai terkontrol, nggak gampang gelap mata gitu. . Apalagi suamiku ikut mendukung dengan bilang aku tambah cihuy, jadinya makin semangat deh…emoticon.

Oh iya, alamat dr Rosanna: Jl. Karet Pedurenan no 78, Kuningan, Jakarta Selatan, telp. 021-5252070 – 021-5256960. Jalannya ada di sebelah Gedung Sentra Mulia (seberang Pasar Festival). Kalo naik ojek, bilang aja ke arah Genteng Hijau (Perbanas) tapi bukan jalan pintas lewat tanah kosong gitu. Kalo bawa kendaraan sendiri, dari arah Gedung Sentra Mulia, di belokan kedua belok kanan, ikutin jalan nanti ada plang dr Rosanna di sebelah kanan jalan.

Ini jadwal prakteknya:
Senin - Rabu - Kamis – Sabtu: jam 06.30 - 19.00
Selasa: jam 14.00 - 19.00
Jum’at: jam 12.00 - 19.00

Aku biasanya datang hari kerja, sampai di tempat prakteknya jam 11.45, trus kira-kira jam 12.30 udah selesai. Satu lagi, kalo kita hamil/menyusui, dr Rosanna nggak ngebolehin kita ikut program pelangsingannya, karena bisa berefek ke air susunya. Makanya aku baru ikut pas udah selesai menyusui.

March 7, 2006

My Life

Filed under: Personal

Alhamdulillah, segala puji hanya bagi Allah SWT, yang Maha Besar, Maha Pemurah, Maha Mendengar, Maha segalanya…

Hampir satu tahun aku jadi SAHM (stay-at-home mom). Setelah kerja hampir 10 tahun, Allah SWT memberi aku kesempatan untuk lebih dekat secara fisik sama anak-anakku, Vilo (4 th, 8 bl) dan Algi (2 th, 1bl). Insya Allah yang ketiga bakal bergabung bulan Mei nanti… (‘kecelakaan’ yang menyenangkan sekaligus bikin deg-deg an karena aku dan Ijal nggak pernah planning punya anak lebih dari dua.. ;-) ). Bersyukur banget aku punya Ijal yang selalu mendukung aku sehingga rencana untuk jadi SAHM akhirnya bisa terlaksana. Bersyukur banget punya suami yang memaklumi kelemahan-kelemahan aku, menjadi tumpahan uneg-uneg, kebahagiaan, kesedihan, dan protes-protes aku, menjadi teman diskusi yang sangat toleran dan nggak cepat menyerah kalau aku udah ngambek ;-) , dan selalu membuat aku merasa menjadi orang yang penting buat hidupnya… Semoga aku juga bisa menjadi istri yang semenyenangkan itu buat Ijal…

Vilo – lengkapnya Vilo Azhar Muska. Kata ‘vilo’ nggak ada artinya, dulu waktu sebelum nikah aku sama Ijal suka ngomongin soal anak cowo yang bakal kita namain Vilo. Trus kalau kata ‘azhar’ diambil dari bahasa arab yang kurang lebih berarti ‘yang berseri, yang gemilang, yang menerangi sekelilingnya’. Vilo kadang kita panggil “uwo” karena sampai 2 tahun lebih dia membahasakan dirinya Uwo, bukan Vilo…

Vilo di TK-A sekarang. Vilo, alhamdulillah, sangat mandiri, berangkat-pulang sekolah naik jemputan sendiri, tidur sendiri (berdua adiknya, ding…), makan sendiri, pakai baju sendiri, dll. Dia juga punya sifat dasar yang baik hati, mudah berempati dan mudah akrab sama orang lain, suka ngebanyol, dan paling kuatir bikin aku atau Ijal sedih (menurut mertuaku, sifat kepribadiannya ini mirip banget Ijal waktu kecil). Dia juga abang yang baik buat adiknya. Walaupun masih suka rebutan mainan sama adiknya, tapi dia nggak pernah jail yang memang niat jail, dia suka nggak sadar aja kalau adiknya tuh masih kecil. Motorik kasarnya berkembang sangat pesat dibandingkan dengan kemampuan konsentrasi, motorik halus, dan bicaranya (dia udah bisa jalan sendiri umur 9 bulan, tapi baru bisa ngomong jelas dan lancar umur 3 tahun, dan langsung baweeelll banget sampe sekarang… ;-) ).

Algi – lengkapnya Algifari Izzan Muska. Kata ‘algifari’ diambil dari nama salah satu sahabat Rasulullah SAW yang mempelopori gerakan hidup hemat, sedangkan kata ‘izzan’ berarti “kepatuhan”. Algi punya panggilan sayang ‘oyong’, berasal dari kata sayang –> ayang –> oyong ;-) . Sekarang dia membahasakan dirinya ‘adi’ atau ‘oyon’, tergantung moodnya dia aja.

Insya Allah tahun ini Algi mulai sekolah playgroup kecil. Kemampuan bahasanya alhamdulillah berkembang dengan pesat. Sekarang ini dia sudah berbicara dengan lafal yang hampir jelas, menggabungkan beberapa kalimat (misalnya, Mama, Algi nggak mau main mobilan, maunya main pesawat terbang aja), dan bawelnya nggak ketulungan… ;-) . Dia sayang banget sama abangnya, keliatan kangennya kalau abangnya pulang sekolah atau bangun tidur, langsung deh dia peluk-peluk dan pamer-pamer (misalnya, Abang Vilo, coba liat Algi lagi apa …). Algi punya sifat yang hati-hati dan pemerhati yang baik. Kalau dihadapkan dengan sesuatu yang baru, dia biasanya memperhatikan dengan teliti dan mengingatnya dengan baik. Dia juga nggak mudah akrab sama orang atau lingkungan baru kalau belum dikenalnya. Sifatnya dasarnya juga sensitif, dari kecil nggak suka lihat adegan kekerasan (adegan ‘ikan makan ikan’ udah considering kekerasan menurut dia…;-)) dan yang heboh-heboh. Sifat seriusnya sedikit dilumeri oleh kekonyolan yang selalu dia liat dari Abangnya (mulai mengeluarkan suara-suara aneh, mempelesetkan kata-kata, atau joget-joget konyol), jadi deh dia keliatan lebih fun, nggak terlalu serius ;-) .

Untuk anak-anak kami, aku selalu berdoa, semoga mereka menjadi orang yang mempunyai hati yang cenderung hanya pada Allah SWT. Amin ya robbal alamin…

February 28, 2006

Akhirnya…

Filed under: Personal

Akhirnya nggak kuat juga nggak punya blog…

Semenjak boom blog, rasanya kepingin banget punya blog karena aku paling seneng baca-baca pengalaman masa lalu sambil inget-inget perasaan waktu kejadian itu terjadi… Kadang-kadang juga pengalaman masa lalu itu ditulis detail banget dengan tujuan sebagai referensi kalau hal itu terjadi di masa yang akan datang. Contohnya nih, pengalaman waktu ngurus SIM sendiri di Daan Mogot, sampai biaya ojek dari jalan raya ke depan kantor SIM nya juga aku tulis… Cuma masalahnya, mood nulis aku baru akan muncul kalau suasana sekelilingku ideal, yaitu lagi kepingin nulis dan nggak lagi dikejar kerjaan. Repotnya, hal sekecil memilih daftar belanja bulanan atau mengatur menu makan sehari-hari juga termasuk kerjaan buat aku, jadi kebayang kan ‘banyaknya’ kerjaan aku yang bikin rencana menulis jadi tertunda-tunda terus… :-P

Masalah kedua, taunya susah juga ya bikin nama blog dan pilih template yang benar-benar bikin sreg… Ini juga yang bikin blog aku nggak jadi-jadi. Waktu tulisan ini dibuat, nama blognya masih belum firm nih. Ada beberapa alternatif sih, moga-moga waktu tulisan ini selesai dibuat udah ketemu nama yg bikin sreg…

Tapi akhirnya cuek aja, karena nggak kuat juga lama-lama nggak punya blog… ;-)






















Get free blog up and running in minutes with Blogsome
Theme designed by Hadley Wickham